INISIASI
KEGIATAN ASTRONOMI DI KELOMPOK ILMIAH REMAJA (KIR) SMAN 1 BANJARMASIN
Prahesti HUSNINDRIANI1),
Anita R. AUDINA2), Fuji HIDJRIYATI2), Muji LESTARI2),
Budi DERMAWAN1), Hakim L. MALASAN3)
1)Prodi
Astronomi, FMIPA-ITB, Bandung, Indonesia
2)SMA Negeri 1,
Banjarmasin, Indonesia
3)Observatorium
Bosscha, FMIPA-ITB, Lembang, Indonesia
Abstrak. Jauh dari sentral pendidikan sains, yang umumnya terletak
di Pulau Jawa, tidaklah menghilangkan potensi keastronomian yang ada pada siswa
Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 1 Banjarmasin. Adanya ikatan emosional dan
latar belakang historis dengan Banjarmasin memicu perwujudan inisiasi kegiatan
astronomi di sekolah tersebut. Potensi keastronomian pada siswa ini muncul
ketika rasa haus akan adanya peralatan teleskop dan pemandu terpenuhi. Dukungan
yang bertahap dan kontinu dapat membuka potensi astronomi pada siswa, yang pada
gilirannya diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan praktik
keastronomian bagi siswa maupun masyarakat umum di Banjarmasin.
Kata
Kunci:
Kegiatan astronomi, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), SMAN 1 Banjarmasin,
1
Pendahuluan
Akhir-akhir
ini astronomi semakin populer di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh banyaknya
berita yang meliput fenomena alam yang berkaitan dengan obyek-obyek di luar
angkasa. Selain itu, kemunculan klub-klub astronomi di beberapa kota besar dan
sekolah juga turut serta mengambil peran dalam populerisasi astronomi. Namun
jika ditelaah lebih dalam, populerisasi tersebut masih terpusat di wilayah
Pulau Jawa, sedangkan untuk wilayah lain seperti di Kalimantan dan di daerah
timur Indonesia, astronomi masih langka peminat.
Banjarmasin
sebagai kota pelabuhan tertua di Kalimantan merupakan salah satu kota besar di
Indonesia. Dengan predikat sebagai ibu kota provinsi, sebagian besar dari
masyarakat Banjarmasin ternyata masih belum mengenal astronomi sebagai bagian
dari sains. Untuk itu, dengan latar belakang historis yang kuat, penulis
berinisiatif untuk memperkenalkan astronomi di Kota Banjarmasin.
Melalui kerja sama dengan Observatorium Bosscha [1] dan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 1 Banjarmasin, penulis melakukan pengenalan dan pelatihan sebanyak empat kali dalam rentang bulan Maret – September 2011. Kerja sama dengan Observatorium Bosscha terjalin dengan adanya donasi teleskop Galileo berupa satu set Hoshi no Techou, satu set Spica, dan satu buah tripod kepada KIR SMAN 1 Banjarmasin. Kerja sama ini merupakan manifestasi dari International Year of Astronomy (IYA) 2009 and Beyond, yaitu “You are Galileo!” Project yang disponsori oleh UNESCO dan National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ) pada tahun 2011 [2].
Dalam
artikel ini, akan dibahas mengenai kegiatan yang sudah dilakukan pada Bagian 2.
Selanjutnya, pada Bagian 3 akan dibahas mengenai rencana pengenalan astronomi
ke depannya di Kota Banjarmasin. Kesimpulan dan saran akan disampaikan pada
Bagian 4.
2
Kegiatan yang Dilakukan
Pengenalan
pertama dilakukan pada tanggal 28 Maret 2011 yang ditandai dengan audiensi dan pemberian
buku Pengantar Astrofisika, peta bintang, dan modul gerhana Bulan 2011.
Pertemuan pertama dalam suasana yang santai dan akrab ini dihadiri oleh Pimpinan,
Guru Pembina, dan Ketua KIR SMAN 1 Banjarmasin.
Selanjutnya,
pertemuan kedua dilakukan pada tanggal 9 Juli 2011. Bertempat di ruang
multimedia SMAN 1 Banjarmasin, kegiatan diisi dengan presentasi mengenai
pengetahuan dasar astronomi dan praktik merakit jam Matahari (Gambar 1). Siswa
terlihat sangat antusias dalam mengikuti pelatihan. Sejumlah 20 siswa mengikuti
pelatihan ini dengan didampingi oleh dua orang guru, yang ikut serta merakit
jam Matahari [3].
Pada
tanggal 5 September 2011 penulis melakukan perakitan teleskop, yang pada
awalnya menemui kesulitan dalam hal pengaturan fokus teleskop saat digunakan
untuk mengamati obyek langit. Namun, pada akhirnya teleskop siap digunakan
untuk pelatihan selanjutnya
Pelatihan
berikutnya dilakukan pada tanggal 7 September 2011. Fokus utama dari kegiatan
kali ini adalah untuk memperkenalkan cara penggunaan teleskop. Pelatihan dilakukan
seusai sekolah dan diikuti oleh empat orang siswa anggota KIR. Penulis sengaja
membatasi siswa yang ikut dengan tujuan agar masing-masing siswa benar-benar
mampu menggunakan teleskop secara keseluruhan. Empat orang siswa tersebut
keesokan harinya melakukan pelatihan kepada anggota KIR yang lain yang
berjumlah sekitar 40-50 siswa.
Setelah
melakukan pengamatan dengan teleskop pada siang hari, selanjutnya penulis
melakukan pelatihan teleskop pada malam hari. Bertempat di salah seorang rumah
guru SMAN 1 Banjarmasin, pada tanggal 9 September 2011 malam penulis melakukan
pelatihan kepada lima orang siswa dan satu orang guru (Gambar 2). Kondisi cuaca
yang mendung tidak mengurangi antusiasme para peserta pelatihan. Karena saat
itu fase Bulan adalah purnama, pengamatan pun berfokus pada Bulan yang masih
bisa terlihat meskipun cuaca cukup berawan. Terlihat kegembiraan yang terpancar
dari peserta, baik siswa maupun guru.
3
Rencana ke Depan
Seiring
dengan meningkatnya jumlah peserta KIR SMAN 1 Banjarmasin karena ketertarikan
siswa terhadap astronomi, penulis berpendapat bahwa hal ini menjadi salah satu
indikator penting yang menunjukkan bahwa peminat astronomi sebenarnya cukup
banyak. Fakta ini membawa penulis pada rencana ke depan agar astronomi tidak
hanya bisa dinikmati oleh siswa KIR SMAN 1 Banjarmasin, tetapi juga oleh
siswa-siswa dari sekolah lain dan masyarakat umum di Banjarmasin.
![]() |
Rencana tersebut dapat berjalan jika terdapat kesinambungan kegiatan astronomi untuk skala SMAN 1 Banjarmasin terlebih dahulu. Untuk itu, penulis melakukan bimbingan jarak jauh agar kegiatan astronomi dapat dilakukan, minimal sebanyak 1 kali dalam sebulan. Beragam modus komunikasi dan transfer pengetahuan dapat dilakukan, misalnya jejaring sosial, diskusi di forum maya, atau kontak langsung via email. Untuk memantapkan kemampuan dalam penguasaan teleskop, yang tidak bisa dipungkiri telah menjadi daya tarik utama dari kegiatan astronomi, penulis menghimbau anggota KIR SMAN 1 Banjarmasin agar bisa melakukan pelatihan teleskop pada siang hari kepada siswa dan guru sekolah.
4
Kesimpulan
Dalam
rentang waktu dari Bulan Maret-September 2011, telah empat kali dilakukan pengenalan
dan pelatihan astronomi. Penulis melihat antusiasme luar biasa yang ditunjukkan
oleh siswa dan guru. Dengan adanya dukungan dari pihak sekolah dan fasilitas
untuk kegiatan astronomi berupa kit teleskop, siswa dan guru yang mengikuti
pelatihan dapat dengan cepat menguasai apa yang diajarkan.
Ke
depannya, penulis berharap bahwa kegiatan astronomi ini dapat juga dikembangkan
untuk skala yang lebih luas, yaitu masyarakat umum di Banjarmasin. Pihak
sekolah diharapkan terus mendukung adanya kegiatan positif. Selain itu,
ketersediaan SDM yang mumpuni sebagai pembimbing langsung kegiatan astronomi menjadi
salah satu kunci utama untuk keberlangsungan kegiatan. Sumber informasi
astronomi yang memadai dan terjangkau juga menjadi saran dari penulis agar
populerisasi astronomi dalam lingkup sekolah hingga kota dapat berjalan dengan
sukses.
Ucapan Terima Kasih
Terima
kasih penulis ucapkan kepada Pimpinan SMAN 1 Banjarmasin yang sangat mendukung
adanya kegiatan astronomi di sekolah tersebut. Demikian halnya kepada
Evan Irawan Akbar, S. Si. dari Observatorium Bosscha atas kesediaannya membantu
dalam hal pengiriman paket donasi.
Daftar Pustaka
[1]
http://bosscha.itb.ac.id/
[2]
http://kimigali.jp/index-e.html
[3] http://www.mysundial.ca/tsp/tsp_index.html
