Selasa, 17 Juli 2012

Kelompok Olmiah Remaja (KIR) SMAN 1 Bjm


INISIASI KEGIATAN ASTRONOMI DI KELOMPOK ILMIAH REMAJA (KIR) SMAN 1 BANJARMASIN

Prahesti HUSNINDRIANI1), Anita R. AUDINA2), Fuji HIDJRIYATI2), Muji LESTARI2), Budi DERMAWAN1), Hakim L. MALASAN3)
1)Prodi Astronomi, FMIPA-ITB, Bandung, Indonesia
2)SMA Negeri 1, Banjarmasin, Indonesia
3)Observatorium Bosscha, FMIPA-ITB, Lembang, Indonesia


Abstrak. Jauh dari sentral pendidikan sains, yang umumnya terletak di Pulau Jawa, tidaklah menghilangkan potensi keastronomian yang ada pada siswa Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 1 Banjarmasin. Adanya ikatan emosional dan latar belakang historis dengan Banjarmasin memicu perwujudan inisiasi kegiatan astronomi di sekolah tersebut. Potensi keastronomian pada siswa ini muncul ketika rasa haus akan adanya peralatan teleskop dan pemandu terpenuhi. Dukungan yang bertahap dan kontinu dapat membuka potensi astronomi pada siswa, yang pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan praktik keastronomian bagi siswa maupun masyarakat umum di Banjarmasin.
Kata Kunci: Kegiatan astronomi, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), SMAN 1 Banjarmasin,



1        Pendahuluan

Akhir-akhir ini astronomi semakin populer di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh banyaknya berita yang meliput fenomena alam yang berkaitan dengan obyek-obyek di luar angkasa. Selain itu, kemunculan klub-klub astronomi di beberapa kota besar dan sekolah juga turut serta mengambil peran dalam populerisasi astronomi. Namun jika ditelaah lebih dalam, populerisasi tersebut masih terpusat di wilayah Pulau Jawa, sedangkan untuk wilayah lain seperti di Kalimantan dan di daerah timur Indonesia, astronomi masih langka peminat.

Banjarmasin sebagai kota pelabuhan tertua di Kalimantan merupakan salah satu kota besar di Indonesia. Dengan predikat sebagai ibu kota provinsi, sebagian besar dari masyarakat Banjarmasin ternyata masih belum mengenal astronomi sebagai bagian dari sains. Untuk itu, dengan latar belakang historis yang kuat, penulis berinisiatif untuk memperkenalkan astronomi di Kota Banjarmasin.




Melalui kerja sama dengan Observatorium Bosscha [1] dan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 1 Banjarmasin, penulis melakukan pengenalan dan pelatihan sebanyak empat kali dalam rentang bulan Maret – September 2011. Kerja sama dengan Observatorium Bosscha terjalin dengan adanya donasi teleskop Galileo berupa satu set Hoshi no Techou, satu set Spica, dan satu buah tripod kepada KIR SMAN 1 Banjarmasin. Kerja sama ini merupakan manifestasi dari International Year of Astronomy (IYA) 2009 and Beyond, yaitu “You are Galileo!” Project yang disponsori oleh UNESCO dan National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ) pada tahun 2011 [2].

Dalam artikel ini, akan dibahas mengenai kegiatan yang sudah dilakukan pada Bagian 2. Selanjutnya, pada Bagian 3 akan dibahas mengenai rencana pengenalan astronomi ke depannya di Kota Banjarmasin. Kesimpulan dan saran akan disampaikan pada Bagian 4.

2        Kegiatan yang Dilakukan

Pengenalan pertama dilakukan pada tanggal 28 Maret 2011 yang ditandai dengan audiensi dan pemberian buku Pengantar Astrofisika, peta bintang, dan modul gerhana Bulan 2011. Pertemuan pertama dalam suasana yang santai dan akrab ini dihadiri oleh Pimpinan, Guru Pembina, dan Ketua KIR SMAN 1 Banjarmasin.

Selanjutnya, pertemuan kedua dilakukan pada tanggal 9 Juli 2011. Bertempat di ruang multimedia SMAN 1 Banjarmasin, kegiatan diisi dengan presentasi mengenai pengetahuan dasar astronomi dan praktik merakit jam Matahari (Gambar 1). Siswa terlihat sangat antusias dalam mengikuti pelatihan. Sejumlah 20 siswa mengikuti pelatihan ini dengan didampingi oleh dua orang guru, yang ikut serta merakit jam Matahari [3].

Pada tanggal 5 September 2011 penulis melakukan perakitan teleskop, yang pada awalnya menemui kesulitan dalam hal pengaturan fokus teleskop saat digunakan untuk mengamati obyek langit. Namun, pada akhirnya teleskop siap digunakan untuk pelatihan selanjutnya

Pelatihan berikutnya dilakukan pada tanggal 7 September 2011. Fokus utama dari kegiatan kali ini adalah untuk memperkenalkan cara penggunaan teleskop. Pelatihan dilakukan seusai sekolah dan diikuti oleh empat orang siswa anggota KIR. Penulis sengaja membatasi siswa yang ikut dengan tujuan agar masing-masing siswa benar-benar mampu menggunakan teleskop secara keseluruhan. Empat orang siswa tersebut keesokan harinya melakukan pelatihan kepada anggota KIR yang lain yang berjumlah sekitar 40-50 siswa.
Setelah melakukan pengamatan dengan teleskop pada siang hari, selanjutnya penulis melakukan pelatihan teleskop pada malam hari. Bertempat di salah seorang rumah guru SMAN 1 Banjarmasin, pada tanggal 9 September 2011 malam penulis melakukan pelatihan kepada lima orang siswa dan satu orang guru (Gambar 2). Kondisi cuaca yang mendung tidak mengurangi antusiasme para peserta pelatihan. Karena saat itu fase Bulan adalah purnama, pengamatan pun berfokus pada Bulan yang masih bisa terlihat meskipun cuaca cukup berawan. Terlihat kegembiraan yang terpancar dari peserta, baik siswa maupun guru.

3        Rencana ke Depan

Seiring dengan meningkatnya jumlah peserta KIR SMAN 1 Banjarmasin karena ketertarikan siswa terhadap astronomi, penulis berpendapat bahwa hal ini menjadi salah satu indikator penting yang menunjukkan bahwa peminat astronomi sebenarnya cukup banyak. Fakta ini membawa penulis pada rencana ke depan agar astronomi tidak hanya bisa dinikmati oleh siswa KIR SMAN 1 Banjarmasin, tetapi juga oleh siswa-siswa dari sekolah lain dan masyarakat umum di Banjarmasin.



Text Box:  
 
Gambar 2: Antusiasme saat pengamatan Bulan berlangsung meskipun dalam kondisi yang cukup berawan (atas). Selain Bulan, cahaya lampu dari jarak yang cukup jauh pun digunakan sebagai obyek pelatihan teleskop (bawah)

Rencana tersebut dapat berjalan jika terdapat kesinambungan kegiatan astronomi untuk skala SMAN 1 Banjarmasin terlebih dahulu. Untuk itu, penulis melakukan bimbingan jarak jauh agar kegiatan astronomi dapat dilakukan, minimal sebanyak 1 kali dalam sebulan. Beragam modus komunikasi dan transfer pengetahuan dapat dilakukan, misalnya jejaring sosial, diskusi di forum maya, atau kontak langsung via email. Untuk memantapkan kemampuan dalam penguasaan teleskop, yang tidak bisa dipungkiri telah menjadi daya tarik utama dari kegiatan astronomi, penulis menghimbau anggota KIR SMAN 1 Banjarmasin agar bisa melakukan pelatihan teleskop pada siang hari kepada siswa dan guru sekolah.

4        Kesimpulan

Dalam rentang waktu dari Bulan Maret-September 2011, telah empat kali dilakukan pengenalan dan pelatihan astronomi. Penulis melihat antusiasme luar biasa yang ditunjukkan oleh siswa dan guru. Dengan adanya dukungan dari pihak sekolah dan fasilitas untuk kegiatan astronomi berupa kit teleskop, siswa dan guru yang mengikuti pelatihan dapat dengan cepat menguasai apa yang diajarkan.

Ke depannya, penulis berharap bahwa kegiatan astronomi ini dapat juga dikembangkan untuk skala yang lebih luas, yaitu masyarakat umum di Banjarmasin. Pihak sekolah diharapkan terus mendukung adanya kegiatan positif. Selain itu, ketersediaan SDM yang mumpuni sebagai pembimbing langsung kegiatan astronomi menjadi salah satu kunci utama untuk keberlangsungan kegiatan. Sumber informasi astronomi yang memadai dan terjangkau juga menjadi saran dari penulis agar populerisasi astronomi dalam lingkup sekolah hingga kota dapat berjalan dengan sukses.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih penulis ucapkan kepada Pimpinan SMAN 1 Banjarmasin yang sangat mendukung adanya kegiatan astronomi  di sekolah tersebut. Demikian halnya kepada Evan Irawan Akbar, S. Si. dari Observatorium Bosscha atas kesediaannya membantu dalam hal pengiriman paket donasi.

Daftar Pustaka

[1] http://bosscha.itb.ac.id/
[2] http://kimigali.jp/index-e.html
[3] http://www.mysundial.ca/tsp/tsp_index.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar